KAJ luncurkan rosario merah-putih untuk amalkan Pancasila

Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) telah mengawali bulan Maria ini dengan meluncurkan rosario merah-putih yang bertujuan untuk mengajak umat Katolik untuk mengamalkan Pancasila secara lebih baik lagi.

“Kami ingin agar Arah Dasar KAJ lima tahun tentang amalkan Pancasila ini membumi, menjadi down to earth, menjadi konkret. Dan kami di Komisi Liturgi memikirkan juga bagaimana liturgi menjadi hidup dan memerdekakan: sasaran prioritas nomor tiga dari Arah Dasar KAJ 2016-2020,” kata Pastor Hieronymus Sridanto Aribowo, ketua Komisi Liturgi KAJ, kepada ucanews.com seusai peluncuran rosario merah-putih yang dilanjutkan dengan Misa di Katedral St. Perawan Maria Diangkat ke Surga di Jakarta Pusat pada Minggu (1/5).

“Kami memilih rosario merah-putih karena ini adalah salah satu penanda gerakan ‘Amalkan Pancasila.’ Warna merah-putih menjadi sangat impresif, dimaksudkan untuk mengingatkan kita pada bendera Indonesia, Sang Saka Merah-Putih. Merah berarti berani membela kebenaran karena iman kepada Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus. Putih berarti suci, tulus dan murni karena kasih Allah semata,” lanjutnya.

Menurut Pastor Danto, gerakan itu muncul karena KAJ prihatin dengan situasi bangsa ini.

“Kita prihatin bahwa negeri ini lupa akan ingatan kolektif. Negeri yang seringkali lupa bahwa ada tonggak-tonggak sejarah yang senantiasa kita harus ingat, kita dukung bersama. Dan tampaknya ini sangat sejajar dengan ingatan kolektif kita yang perlahan-lahan mulai ditinggalkan: tahun 1908 sebagai Kebangkitan Nasional, lalu tahun 1928 sebagai Sumpah Pemuda, dan tahun 1945 sebagai Kemerdekaan Republik Indonesia,” katanya.

Pastor Danto yakin bahwa gerakan itu juga akan membuat iman umat Katolik seimbang.

“Diharapkan rosario merah-putih mampu membangun kesadaran kita dalam peziarahan ini untuk berdoa bersama Bunda Maria bagi keselamatan bangsa dan negara, mengingatkan kita untuk semakin 100% Katolik 100% Indonesia,” katanya.

“Berdoa rosario merah-putih juga menjadi salah satu ungkapan cinta umat beriman kepada tanah air dan tanda kepedulian kita untuk terus menerus amalkan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia,” lanjut Pastor Danto.

Saat peluncuran rosario merah-putih yang dipimpin oleh Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo, sebanyak 2.000 rosario merah-putih dibagikan secara gratis kepada umat yang memadati gereja katedral.

Dalam homilinya, Uskup Agung Suharyo mengatakan bahwa melalui gerakan itu “umat Katolik diajak untuk mengamalkan Pancasila seperti tertulis dalam Arah Dasar KAJ.”

“Semoga dengan kekuatan ingatan bersama itulah, kita semua, bangsa kita, mampu mengarungi arus jaman ini dengan teguh dan penuh kepercayaan kepada Tuhan,” katanya.

Pada hari yang sama, 65 paroki di KAJ meluncurkan rosario merah-putih.

Pastor Ignatius Ismartono SJ yang memimpin peluncuran rosario merah-putih di Kapel St. Petrus Kanisius di komplex Kolese Kanisius di Menteng, Jakarta Pusat, menyebut gerakan itu sebagai “ibadat yang perlu dikembangkan.”

KAJ luncurkan rosario merah-putih untuk amalkan Pancasila

“Dan lebih-lebih tanah air kita juga tidak lepas dari apa yang diprihatinkan dalam Laudato si’. Ditulis di sana: Maria, Bunda yang telah merawat Yesus, sekarang merawat dunia yang terluka ini dengan kasih sayang dan rasa sakit seorang ibu,’” katanya kepada ucanews.com.


Merujuk pada pengamalan Pancasila, imam yang juga mantan sekretaris eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia itu mengatakan bahwa setiap keberagamaan selalu merupakan ungkapan atas dua sisi yakni realitas yang tidak sesuai dengan kehendak Allah ketika menciptakan dunia dan cita-cita bahwa Kerajaan Allah itu hadir dalam kehidupan manusia.

“Maka tentu ada dua sisi itu ketika yang baik tidak diamalkan dan yang baik yang dirindukan bersama. Maka entah Pancasila diamalkan atau tidak, tapi bahwa tentu saja sebagai manusia dapat dilihat banyak yang tidak diamalkan, lebih-lebih intoleransi, kemiskinan dan kerusakan lingkungan,” lanjut Pastor Ismartono.

Peluncuran rosario merah-putih di kapel tersebut dilanjutkan dengan Misa dan prosesi patung Bunda Maria dan pendarasan rosario merah-putih.

Yuliana Yuke, umat paroki katedral yang menghadiri peluncuran dan prosesi serta pendarasan rosario merah-putih di kapel itu, mengatakan bahwa intoleransi masih bisa dirasakan di negeri ini.

“Indonesia sendiri masih ada masalah terkait kerukunan beragama. Maka saya akan berdoa rosario merah-putih. Intensi saya untuk persatuan bangsa,” katanya kepada ucanews.com.